Home > Bencana Merapi > Ketidakstabilan Jumlah Pengungsi

Ketidakstabilan Jumlah Pengungsi

JALIN MERAPI (Boyolali, 12/11/2010) Jika kita mengelilingi kota Boyolali, maka terlihatlah tempat-tempat pengungsian tersebar di berbagai daerah bahkan banyak yang tinggal di rumah penduduk. Kebanyakan para pengungsi tinggal di rumah-rumah penduduk warga desa sebelah yang tidak terkena efek dari letusan gunung merapi. Selain mereka mendapatkan penampungan, mereka masih  bisa beraktivitas sebagaimana sehari-harinya. Tetapi  tidak sedikit ada keluhan dari para pengungsi yang di tempat pengungsiannya tidak mempunyai kegiatan apa-apa.

 

Dengan keadaaan yang seperti ini, para pengungsi merasa bosan dan jenuh sehingga banyak para pengungsi yang nekat untuk pulang kembali ke tempat asalnya untuk melihat rumah dan memberi makan hewan ternaknya, walaupun sadah di larang oleh pemerintah dan aparat yang berwajib, tetapi para pengungsi tetap nekat untuk pulang ke tempat asalnya. Mereka biasanya berangkat dari pagi hari dan kembali ke tempat pengungsian pada sore atau malam hari. Sehingga jumlah pengungsi pada siang hari jauh berbeda dari jumlah pengungsi pada malam hari. Hal ini terkadang juga menyulitkan para relawan yang mau menyalurkan logistik kepada para pengungsi terkait dengan jumlah barang yang harus di salurkan.

SEKOLAH DARURAT
SMA N 1 Cepogo, sebuah sekolah di Cepogo, Kabupaten Boyolali yang terkena dampak dari bencana letusan merapi terpaksa di pindahkan di mushola-mushola, masjid-masjid, dan di rumah guru. Sekolah darurat ini dirikan akibat adanya bencana merapi, dan setelah melalui rapat guru maka dibukalah sebuah sekolah darurat ini. Jumlah siswa yang ada di sekolah resebut adalah 400 orang, tetapi yang berangkat untuk belajar lagi di sekolah darurat ini hanya sekitar 90 % saja. Hal ini di karenakan para siswa yng tersebar di beberapa titik pengungsian, sehingga sangat sulit untuk mengumpulkan kembali para siswa yang sudah tersebar dan tidak diketahui di mana keberadaannya.

Salah seorang guru di sekolah tersebut Drs. R Surojo mengungkapkan bahwasannya jam belajar pada sekolah darurat itu dimulai dari jam delapan dan di akhiri pada jam dua belas. Sekolah darurat ini sudah ada sejak hari Rabu, 10 November 2010 bertempat di masjid Darul Fatah, mushola Al Mujahidin Perumnas Graha Mandiri, rumah Ibu Ristanti Yustin S.Pd., M.Pd, Mushola Rt 02/04 Sidomulyo Pulisen dan di rumah Ibu Dra. Titik Martini. Dalam kurun waktu dekat ini, direncanakan sekolah darurat itu akan dipindah ke SMA N 1 Boyolali, kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan pada sore hari setelah siswa SMA N 1 Boyolali pulang sekolah. Semangat menuntut ilmu seperti inilah yang layaknya kita tiru dan kita dukung bersama, pendidikan untuk semua, tidak tergantung situasi dan kondisi.

Categories: Bencana Merapi Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: