Home > Bencana Merapi > Terkatung-katungnya Nasib Pengungsi di Pemukiman Warga

Terkatung-katungnya Nasib Pengungsi di Pemukiman Warga

JALIN MERAPI (Magelang, 12/11/2010) – “Apa Mbak mau memberi bantuan?” Begitulah kalimat yang kerap diajukan Ngatini kepada setiap orang yang datang. Ia adalah salah seorang pengungsi yang tinggal di rumah Sulaimah di Desa Gathak Gamor, Muntilan, Magelang. Di rumahnya yang sederhana, Sulaimah menampung 20 orang saudaranya yang berasal dari Tegalrandu, Desa Mranggen, Srumbung, Magelang yang hanya berjarak 10 km dari puncak Merapi. Pengungsi yang terdiri dari 9 balita dan anak-anak, 11 orang dewasa, serta sejumlah lansia itu mulai mengungsi setelah erupsi pertama Merapi (26/11/2010).

Cerita senada juga ditemukan di kediaman Asroji. Warga Dusun Gathak Gamor, Muntilan, ini menerima 11 saudaranya yang berasal dari Sudimoro, Ngaglik, dan Mranggen, Kecamatan Srumbung, Magelang. Mereka semua masih memiliki hubungan keluarga. Ninik, tetangga Asroji, juga menerima 37 pengungsi dari Srumbung sejak letusan pertama. “Kira-kira sudah 15 hari (pengungsi di rumah saya),” kata Ninik. Namun, pengungsi di rumah Ninik tidak seluruhnya memiliki hubungan keluarga. “Banyak tetangga Ibu saya yang ikut mengungsi ke sini,” jelas Ninik.

Para pengungsi ini tidak terdaftar dalam daftar pengungsi. “Belum pernah ada petugas yang mendata,” jelas Ninik. Karena itu pula ketiga keluarga penampung pengungsi ini tidak mendapat bantuan secara berkelanjutan. Ia menambahkan, bantuan yang diperoleh dari para donatur langsung pun tidak mencukupi. Akhirnya, pengungsi-pengungsi ini mengusahakan sendiri kebutuhan mereka.

“Kalau pagi pulang ke rumah. Sore harinya balik ke sini biasanya membawa beras dan singkong. Pokoknya yang bisa dimakan,” cerita salah seorang pengungsi. Mayoritas pengungsi ini enggan untuk tinggal di barak pengungsian karena mereka lebih nyaman jika tinggal di rumah saudara. “Kalau di sini kan tidak berdesak-desakan dengan pengungsi lain. Lagipula, banyak anak-anak dan balita. Kasihan kalau tinggal di pengungsian,” ungkap Ngatini. Ada pula alasan lain yang membuat para pengungsi tersebut memilih untuk tidak tinggal di barak pengungsi yang terletak di lapangan tembak Salaman, Magelang. Yaitu, jarak yang terlalu jauh dari rumah asal. Sehingga, akan sangat menyulitkan jika mereka ingin kembali ke rumah untuk bersih-bersih atau mengurus ternak.

Masalah Sosial
Setelah lebih dari dua minggu mengungsi, mulai bermunculan masalah-masalah sosial dan ekonomi. Tidak hanya para pengungsi yang mengalami dampak psikologis dari adanya bencana ini, tetapi pemilik rumah juga mengalaminya. “Anak saya sekarang menjadi lebih bandel karena banyak temannya. Biasanya dia hanya sendirian dan penurut,” terang Ninik menjelaskan perubahan sikap anaknya setelah rumahnya digunakan sebagai pengungsian. Selain itu, sebagian dari pengungsi mulai merasa bosan tinggal di tempat orang lain. Situasinya kian dilematis karena rumah mereka di lereng Merapi juga belum bisa ditempati karena terselimuti material vulkanik.

Adapun, sumber perekonomian mereka yang berupa lahan pertanian, kebun salak, dan kolam ikan pun musnah diterjang hujan pasir dan abu vulkanik saat Merapi erupsi. Hewan ternak yang tersisa juga tidak bisa diharapkan untuk mempertahankan kelangsungan penghidupan mereka. Para pengungsi tidak mungkin menggantungkan diri selamanya dari kebaikan tuan rumah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Apalagi, pemilik rumah kebanyakan juga merupakan keluarga menengah ke bawah dari segi kemampuan ekonominya.

Sulistiyawati, Nila Viayanti Mala

Categories: Bencana Merapi Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: