Home > Bencana Merapi > Senyum Polos Bocah-bocah Pengungsi

Senyum Polos Bocah-bocah Pengungsi

JALIN MERAPI – Jumat siang (12/11/2010) itu sinar matahari menerobos masuk dengan terangnya ke dalam Stadion Maguwoharjo. Di tribun stadion yang sejak sepekan terakhir digunakan sebagai lokasi pengungsian ini terlihat sejumlah anak-anak tengah asyik bermain bola. Mereka berlarian mengejar bola dan mengelilingi tribun. Ada juga yang hanya duduk berkumpul dengan teman-temannya sambil melontarkan canda tawa khas anak-anak.

 

Di pengungsian memang tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Tidak ada ruangan kelas atau buku tulis, tiada pula sepeda yang biasa mereka kayuh. Yang ada hanyalah mainan seadanya dan makanan kecil uluran tangan sejumlah orang yang hatinya tersentuh. Meski demikian, anak-anak ini tetap bersyukur, setidaknya mereka masih bisa tersenyum dan masih ada orang yang peduli terhadap nasib mereka kini.

Sementara itu, di tengah stadion sejumlah relawan sedang membentuk kelompok-kelompok kecil bersama anak-anak di sekitar tribun. Anak-anak diajak untuk berkenalan, lalu bercerita di kelompoknya. Ada juga di luar stadion yang diajak menggambar dan mewarnai. Menurut Novi, salah satu relawan dari Pondok Anak Ceria yang bekerjasama dengan Dinas Sosial, “Kegiatan seperti ini dapat mendekatkan hubungan personal, memancing daya imajinasi dan kreativitas anak.” Kegiatan pendampingan seperti ini banyak dijumpai juga di lokasi pengungsian lain. Pendampingan anak dijalankan dalam waktu tertentu yang telah direncanakan sebelumnya supaya mereka tidak lekas bosan. Tujuannya tak lain agar terjalin kedekatan antaranak dan juga antara anak dengan lingkungannya.

Di Sleman saja saat ini jumlah anak di pengungsian terhitung tidak sedikit. Di saat seperti inilah mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian khusus dari orang-orang di sekitar mereka. Setidaknya hal ini bisa mengurangi atau melupakan sejenak beban psikis yang mendera anak-anak pascaletusan Merapi.

Beban Psikis dan Pengalaman Traumatis
Beban psikis akibat bencana juga dirasakan Yusuf (12 tahun). Ekspresi bocah asal Pakem yang hanya ditemani ibunya dan beberapa tetangganya di Stadion Maguwoharjo itu tampak datar. Saat ditanya, ia hanya menganggukkan kepala. Sesekali ia menjawab pertanyaan dengan singkat, ya atau tidak, sambil tersenyum tipis. Yusuf menceritakan kejadian saat Merapi kembali memuntahkan isi perutnya pada Jumat dini hari (5/11/10) yang membuatnya harus mengungsi hingga saat ini.

Menurut Yusuf, tengah malam itu ia dan keluarganya sedang terlelap. Tiba-tiba dari luar terdengar sejumlah prajurit TNI menggedor pintu rumahnya untuk mengingatkan seisi rumah agar segera mengungsi. Lantas ibunya membangunkan Yusuf beserta kakak dan adiknya. Kemudian, seisi rumah berhamburan keluar memakai sepeda motor saudara ibunya. Menurut Yusuf, semua orang terlihat kebingungan saat itu. Ada yang menjerit-jerit sejadinya memanggil nama keluarganya. Suara bising motor pun menambah gaduh jalanan, seolah hanya kebingungan yang tampak. Bersama pengendara motor yang lain, Yusuf dibonceng kakaknya menuruni Jalan Kaliurang menuju Stadion Maguwoharjo sembari terus dihantui rasa was-was dan khawatir.

Yusuf berharap situasi yang dialaminya ini segera berakhir. Ia mengaku sudah mulai bosan dengan keadaan yang kini ia rasakan setiap hari di tempat pengungsian, Stadion Maguwoharjo. Meski setiap hari ia masih tetap melakukan kegiatan belajar, ia sangat mendambakan dapat pulang ke rumah. “Tetap enak di rumah, saya bisa ngapain saja,” tutur Yusuf sambil menerawang ke arah rerumputan di depannya.

Sementara, Redo dan Fikri punya pengalaman berbeda. Kedua bocah yang masih duduk di kelas 5 SD ini mengaku senang-senang saja berada di Stadion Maguwoharjo. “Di sini enak, tiap hari bisa main bola di lapangan,” terang keduanya serempak. Namun, keduanya tidak memungkiri kalau mereka juga ingin pulang ke rumah mereka yang berada di Desa Harjobinangun, Pakem, Sleman.

Distribusi Bantuan untuk Anak
Adapun, perihal makanan di Maguwoharjo, mayoritas pengungsi mempunyai jawaban sama. “Ya bosan, kasihan anak-anak, mereka jadi enggak doyan makan,” ujar Yuni. Ibu lima anak ini juga menyayangkan makanan yang disediakan, khususnya untuk anak-anak, tidak memenuhi gizi yang cukup. Sehingga, ia terpaksa membeli sendiri makanan untuk kelima anaknya.

Di lokasi pengungsian lain, Sriwahyuningsih yang mengungsi di Gedung Koesnadi Hardjosumantri (dahulu Purna Budaya) merasa gusar dengan para relawan setempat. Pasalnya, setiap malam putri semata wayangnya harus terlelap ditemani hawa dingin. Sejak Minggu (7/11/10), Sriwahyuningsih belum mendapatkan selimut termasuk untuk anaknya, sehingga membuatnya gusar.

Selain itu, ia juga menyayangkan koordinasi relawan yang tidak berjalan maksimal, bahkan terkesan pilih-pilih. Sehingga, pembagian makanan dan mainan anak tidak merata. Jatah makan hanya sampai pada pengungsi yang menempati lantai bawah. Sedangkan, pengungsi di lantai dua tidak mendapatkan jatah yang sama. Begitu juga dengan mainan anak, ia terpaksa meminta sendiri mainan untuk anaknya karena sejak tadi pagi anaknya rewel minta mainan. “Anak lain dapat mainan, anak saya kok nggak dapat, anak saya jadi meri (iri),” tutur perempuan yang juga pernah menjadi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) saat erupsi Merapi 2006 silam.

Memang tidak ada yang menginginkan datangnya bencana ini. Namun, tatkala bencana menerpa, kita bisa memberikan yang terbaik dari kemampuan kita untuk meringankan beban yang tengah mendera para pengungsi, tidak terkecuali anak-anak. Semangat bocah-bocah pengungsi ini untuk terus melanjutkan hidup meski dalam keadaan yang tidak seperti biasanya, patut kita apresiasi dan dampingi terus. Tentu saja lewat pemenuhan kebutuhan mereka secara optimal, baik dalam hal kebutuhan fisik, psikis, maupun sosial. Karena, tak satu pun dari mereka yang tahu sampai kapan harus menjalani semuanya di pengungsian.

Aan Mei Handoko, Abdulloh Salam, Ricky Iskandar

 

Laporan ini merupakan kerjasama antara Jalin Merapi, Program Peduli Merapi Radio Republik Indonesia, dan Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Categories: Bencana Merapi Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: