Home > Bencana Merapi > Penambang Pasir, Meraup Berkah dari Merapi

Penambang Pasir, Meraup Berkah dari Merapi

JALIN MERAPI (Sleman, Rabu, 17 Nov 2010). “Banjir, banjir, banjir!” teriak beberapa perempuan di pinggir Kali Krasak, Minggu (14/11). Selang beberapa menit, aliran sungai menjadi deras dengan membawa batu-batu besar dan kayu gelondongan. Mereka pun mengalah sejenak untuk tidak terjun ke sungai, menunggu banjir berhenti.

Ibu-bu tersebut adalah penambang pasir tradisional di Desa Jagang Lor, Kecamatan Salam, Magelang. Tuntutan ekonomi yang semakin membelit serta berlimpahnya pasir yang jarang terjadi seperti sekarang ini membuat mereka rela bekerja di daerah berbahaya. Seperti sudah sering diberitakan, 300 meter di pinggir bantaran sungai yang dialiri lahar dingin Merapi sudah ditetapkan oleh BPPTK sebagai daerah berbahaya.

Pemandangan serupa, penambangan pasir oleh warga, juga bisa ditemukan di bantaran Kali Krasak sisi seberangnya, di Desa Lumbungrejo, Tempel, Sleman. Warga di desa ini mengaku, resiko yang mereka hadapi tidak sembarangan, namun karena tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari, mereka tetap ngotot menambang pasir.

Warga desa ini, sejak letusan besar Merapi pada Jumat dua pekan lalu (5/11), mengungsi di beberapa titik pengungsian. Ketika kembali ke rumah, warga mengaku harus memulai hidup baru dengan cukup sulit, pasalnya rumah yang mereka huni sebagian telah rusak. Terlebih, mata pencaharian mereka, seperti berkebun salak dan beternak ikan, kini sudah tidak bisa diandalkan. “Kebutuhan hidup kan tidak cuma makan. Kalau kita terus di pengungsian, kita tidak punya biaya untuk sekolah anak,” ungkap Pak Bodong (nama panggilan), warga Dusun Romogangsan, Desa Lumbungrejo, Tempel.

Selain alasan himpitan ekonomi tersebut, warga mengungkapkan bahwa pasir Kali Krasak memang harus dikeruk untuk mengurangi pendangkalan. “Kalau tidak dikeruk justru bahaya, ada kemungkinan airnya akan meluap dan membanjiri pemukiman”, kata Imam Suhadi, Kepala Desa Lumbungrejo.

Para Penambang Perempuan

Di antara para penambang tersebut, jumlah kaum perempuan cukup banyak. Seperti halnya kaum laki-laki, semenjak erupsi Merapi, penghasilan mereka terhenti. Ibu Supriyanti contohnya, dulu sebelum erupsi, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun, ketika para pemilik rumah mengungsi, dia bingung harus bekerja pada siapa.

Suaminya yang kelelahan ronda tiap malam, hanya bisa tidur ketika siang. Para pria di kampung ini memang diwajibkan untuk ronda setiap malam, karena banyak pencuri yang berkedok pengungsi. “Mereka naik truk, banyak, jadi mirip pengungsi,” kata Bu Tari yang juga ditinggal suaminya tidur siang.

Anak-anak juga belum masuk sekolah karena gedung sekolah mereka dijadikan lokasi pengungsian. Kini, anak-anak tersebut sibuk bermain di sekitar bantaran sungai sembari membantu memijat punggung sang ibu ketika penat datang.

Hasil yang Tidak Seberapa

Banyaknya orang yang ingin menambang pasir membuat warga setempat, dibantu perangkat desa, berinisiatif menetapkan jadwal harian penambangan berdasarkan dusun-dusun yang ada. Jadwal ini diperlukan untuk menertibkan penambangan dan menghindari konflik diantara warga desa.

Pasir yang sudah terangkat kemudian dikumpulkan dan diletakkan di pinggir jalan, menunggu truk yang singgah dan berminat membeli. Ternyata, tidak mudah menjual pasir tersebut karena truk-truk yang datang justru lebih sering memilih untuk berhenti di pinggir sungai, ikut menambang pasir.

Ramainya aktivitas penambangan mengundang truk-truk dari luar kota, tidak hanya dari sekitar Sleman, namun juga dari Magelang, Semarang, dan Purworejo. Dalam sehari, sekitar 15 truk bisa datang menuju bantaran kali. Setiap truk biasanya bisa mengangkut 5-6 kubik pasir. Para pembeli ini mengambil pasir yang dikumpulkan warga seharga Rp 80.000 per kubiknya. Untuk mengumpulkan pasir hingga mencukupi kapasitas satu truk sedang, butuh lebih dari dua hari penambangan.

Truk yang datang untuk mengangkut pasir juga dikenai retribusi oleh warga sebesar Rp 10.000 bagi truk lokal dan Rp 20.000 bagi truk dari luar Kabupaten Sleman dan Magelang. Retribusi ini kemudian dibagi 50 persen untuk sewa lahan parkir dan 50 persen untuk kas desa. Warga mengungkapkan bahwa retribusi ini akan digunakan untuk peningkatan kesejahteraan warga dan perbaikan fasilitas desa.

Aktivitas penambangan di sekitar Kali Krasak ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pasalnya, penambang juga harus berhadapan dengan pelarangan dari pihak kepolisian, dengan alasan daerah bantaran kali masih berbahaya. “Meski belum ada laporan adanya korban, kami terus berupaya melakukan pengamanan, ini juga demi keselamatan warga,” ujar Qori Oktohandoko, Kasatreskrim Polres Sleman yang datang ke lokasi penambangan pada Minggu lalu (14/11).

Dalam konteks pengamanan daerah aliran sungai dan para penambang tersebut, Ramijo, Danton Linmas Kecamatan Salam, senantiasa mengawasi debit air di daerah yang lebih tinggi. Dengan handy-talky (HT) pribadi, dia rela meluangkan waktu untuk memantau perkembangan sungai dari tempat pengawasan yang berada di atas.

Noveri Faikar Urfan & Anggi Septa Sebastian

Laporan ini merupakan kerjasama antara Jalin Merapi, Program Peduli Merapi Radio Republik Indonesia, dan Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Categories: Bencana Merapi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: