Home > Bencana Merapi > Penggantian dan Pembelian Hewan Ternak, Haruskah Menunggu Merapi Mereda?

Penggantian dan Pembelian Hewan Ternak, Haruskah Menunggu Merapi Mereda?

JALIN MERAPI (Sleman, Selasa, 16 Nov 2010). Erupsi Merapi meluluhlantahkan daerah di sekitar lereng Merapi. Cangkringan dan daerah sepanjang aliran Sungai Gendol menjadi kawasan yang paling parah terkena dampak erupsi tersebut. Selain korban jiwa, hewan ternak seperti sapi dan kambing juga tak luput dari terjangan awan panas Merapi. Menurut Dinas Peternakan Sleman, jumlah hewan ternak yang mati sampai saat ini berjumlah sekitar 2.896 ekor, sebagian besar adalah ternak sapi yang berjumlah 2.885 ekor, sisanya adalah 11 ekor kambing. Jumlah sesungguhnya sangat mungkin jauh lebih besar, karena data di atas hanya berasal dari kelompok-kelompok ternak, sedangkan ternak milik pribadi kebanyakan belum didata. Seperti yang diungkapkan Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Pemerintah Kabupaten Sleman, Suwandi Aziz, “Untuk data yang masuk sementara hanya dari kelompok ternak, sementara dari warga kami masih susah mendata”. Pendataan dari pemerintah kabupaten ini terkait dengan keputusan pemerintah untuk mengganti ternak warga yang menjadi korban Merapi. Namun, informasi pendataan dari pemerintah kabupaten ini masih belum diketahui oleh warga, khususnya mereka yang ternaknya menjadi korban. Hal ini disebabkan pemberitahuan pemerintah sebatas pada kelompok-kelompok ternak. Selain itu, pemerintah kabupaten masih disibukkan dengan proses pendataan ternak mati yang belum selesai. ”Saya masih belum dengar ada rencana bantuan dari pemerintah”, kata salah seorang pengungsi dari Jamblangan, Purwobinangun, Pakem, yang mengungsi di Stadion Maguwoharjo. Selain warga, aparat di Kecamatan Cangkringan juga belum begitu mengetahui masalah penggantian. “Mekanisme belum ada karena belum ada instruksi dari atas”, ujar Hermanto, Kasi Pelayanan Umum Kecamatan Cangkringan. Beliau juga menjelaskan bahwa sampai saat ini prosesnya baru sekedar pendataan dari kecamatan. “Korbannya banyak, karena tadinya ternak warga sudah dikumpulkan di rumah warga yang dianggap aman, tapi ternyata kena juga”, tambahnya. Penjualan Ternak Lama di pengungsian membuat situasi serba sulit bagi warga. Jarak yang jauh untuk memberi makan dan kondisi pakan yang terkena material vulkanis membuat pengungsi yang memiliki ternak serba salah. Kondisi keuangan yang semakin kritis juga menyudutkan mereka. Hal inilah yang memaksa warga untuk menjual ternak mereka. Situasi ini kemudian dimanfaatkan para juragan sapi untuk membeli sapi para pengungsi dengan separuh harga. “Kalau harus bolak-balik Maguwo untuk ngasih makan ternak, lama-lama gak ada ongkos bensin, ya terpaksa ternak saya jual, walalupun separuh harga,” kata seorang pengungsi dari Ngepring, Purwobinangun, Pakem, yang sementara tinggal di pengungsian Maguwoharjo. Pemerintah Kabupaten Sleman menghimbau warga yang memiliki ternak untuk sabar dan tidak terburu-buru. Suwandi Azis juga menghimbau Asosiasi Pedagang Sapi untuk membeli sapi pengungsi dengan harga normal dan wajar. “Kami masih menunggu Merapi mereda, baru proses selanjutnya bisa berjalan, yakni penggantian dan pembelian sapi warga,” kata Suwandi. Jika dicermati, fenomena jual beli ternak dengan harga miring ini akan sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan ekonomi para pengungsi. Sebagian besar pengungsi hidup dari pertanian dan peternakan. Pertanian jelas tidak bisa lagi diandalkan untuk beberapa bulan ke depan karena timbunan debu dan pasir vulkanik di lahan-lahan pertanian warga menyebabkan gagal panen secara massal. Dalam kondisi ini, warga hanya mempunyai satu sumber ekonomi, yaitu ternak yang masih hidup. Jika berbagai desakan hidup di pengungsian memaksa warga menjual ternak mereka dengan harga miring, darimana mereka akan hidup? Apakah seterusnya akan mengandalkan bantuan? Mencermati kondisi tersebut, harusnya pemerintah segera melakukan langkah tegas dan nyata untuk mencegah praktik jual beli ternak dengan harga miring tersebut, tidak sekadar himbauan semata. Aktivitas Merapi yang sampai saat ini masih fluktuatif berakibat pada proses penggantian ternak menjadi berlarut-larut. Sementara, warga yang ternaknya mati harus sabar menunggu tindak lanjut dari pemerintah sampai Merapi mereda, belum jelas sampai kapan. Di sisi lain, beberapa warga yang ternaknya selamat terpaksa menjual ternak mereka karena himpitan hidup di pengungsian. Masih adakah alasan untuk menunggu? Rifqi Ardita W & Sutrisno Laporan ini merupakan kerjasama antara Jalin Merapi, Program Peduli Merapi Radio Republik Indonesia, dan Program Studi Ilmu Komunikasi UII

Categories: Bencana Merapi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: