Home > Bencana Merapi > Pengungsi: Mencari Selamat, Bukan Mencari Bantuan

Pengungsi: Mencari Selamat, Bukan Mencari Bantuan

JALIN MERAPI (Magelang, 19/11/2010) — “Kami tak ingin banyak meminta,” nada bicara Suti Murni ringan dan sungguh-sungguh saat mengucapkannya. Salah satu pengungsi dari Ngepos, Kecamatan Srumbung, Magelang ini mengungkapkan bahwa niat mereka mengungsi tidak untuk merepotkan orang lain dengan meminta-minta bantuan selama di pengungsian.

Hampir seluruh warga Kecamatan Srumbung diungsikan ke Lapangan Tembak Salaman, Magelang. Lebih dari 2.000 orang kini harus berada jauh dari rumahnya dan tinggal sementara di pengungsian ini. Mereka ditempatkan di dalam tujuh barak dengan ukuran masing-masing barak setara sebuah lapangan futsal. Suti menempati barak empat bersama 190-an orang lainnya.

Setiap malam ia harus mendengarkan beberapa orang tua lanjut usia yang terbatuk-batuk terus dan anak-anak kecil yang terbangun lalu rewel. Ia membayangkan betapa tidak enaknya bila jatuh sakit dan sungguh repot mengurus anak saat ini, terlebih dalam situasi di pengungsian. Kerap terlintas di benaknya sebuah pertanyaan yang sekaligus menjadi harapan terdalamnya, “Kapan bisa pulang?”

Suti sadar bahwa rumah yang biasanya ia tinggali bersama keluarganya belum bisa ditempati lagi karena tumpukan abu yang masih menggunung hingga ke dalam rumah. Hujan lebat juga menambah runyam kondisi rumahnya karena air hujan selalu masuk lewat sela-sela genteng rumahnya. Selain itu, abu tebal juga masih menempel di perabotan rumahnya. Ia merindukan kehidupan normal seperti sediakala. Ia ingin kembali pergi ke pasar, memasak setiap pagi untuk sarapan sebelum menuju ladangnya. Suti juga merindukan bisa ngembangi lagi alias menyerbukkan bunga salak yang kelak menjadi harapan keluarganya untuk makan sehari-hari, sekolah anak-anaknya, dan juga memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

“Eling lan Waspada”

Namun kini, setiap pagi ia disibukkan untuk mengantre kamar mandi sembari ngobrol dengan para pengungsi lain. Setelahnya, ia kembali lagi ke barak atau ke dapur umum membantu para prajurit TNI membungkus nasi untuk para pengungsi. “Daripada nglangut (tidak ada kegiatan) mending kesini. Bantu-bantu dan bisa sambil guyon (bercanda),” ujar Suti.

Kebutuhan makan dan mandi cuci kakus (MCK) selalu cukup walaupun kadang sering terlambat. Selimut juga belum merata, terutama di masa-masa awal mengungsi. Suti menceritakan, selimutnya sempat diambil orang lain tanpa ia ketahui. Akan tetapi, rupanya hal ini tak jadi masalah baginya. “Kan bisa ambil di rumah sewaktu pulang. Kesini tujuanne mung siji, nggolek selamet, ora nggolek bantuan (tujuannya cuma satu, mencari keselamatan bukan bantuan),” paparnya.

Cara pandang yang demikianlah yang selalu ditanamkan warga Ngepos. Mereka selalu sadar diri bahwa tujuan utama mereka adalah mencari keselamatan. Jika ada bantuan datang, mereka menerima dengan senang hati. Namun, kalaupun tidak ada atau kurang, mereka sebisa mungkin tidak terlalu mengharapkan yang lebih dari itu. Pola pikir semacam ini menjadi bekal mereka untuk selalu bisa survive  dalam keadaan apapun, termasuk ketika nanti telah kembali ke rumah masing-masing. “Sekarang ini (di pengungsian) bisa dikatakan serba ada, tapi nanti kalau pulang sudah tidak ada bantuan bagaimana?” ujar Suti yang turut diamini para pengungsi lainnya saat menunjukkan sikap mereka agar selalu eling lan waspada, sadar diri dan siaga dalam segala kondisi.

Tak heran bila mereka selalu bersyukur. Ketika rumah belum dapat ditempati, ternak sudah tiada, dan kebun salak yang menjadi harapan hidup juga rusak, mereka tetap berusaha bijak untuk selalu bersyukur dan membiasakan diri merasa cukup dengan kondisi apapun. “Biar enggak kaget kalau nanti dipulangkan dan sudah tidak ada bantuan lagi,” ujar Suti sembari tersenyum tulus.

Sepertinya, semangat hidup Suti ini kian memperkuat ungkapan Mbah Mun, pengungsi dari Soropadan, Srumbung, Magelang, tentang makna hidup dan cara menyikapinya. “Urip ki lak mung sak dermo nglakoni to? Nek gek diparingi seneng yo seneng. Nek gek diparingi susah yo sabar.” Baginya, hidup itu tinggal dijalani. Kalau sedang diberi kebahagiaan ya bahagia, tetapi jika tengah diberi susah ya sabar, dan sekarang mereka merasa sedang diminta untuk bersabar sebentar.

Categories: Bencana Merapi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: