Home > Bencana Merapi > Bantuan di Maguwoharjo: Masuk Gampang, Keluar Susah (2)

Bantuan di Maguwoharjo: Masuk Gampang, Keluar Susah (2)

JALIN MERAPI, Sleman. Jumat petang (19/11), bantuan menumpuk memenuhi gudang barat Stadion Maguwoharjo. Untuk siapa bantuan di gudang seluas lebih kurang satu ruangan kelas ini? Menurut banyak relawan, bantuan itu untuk pengungsi di luar stadion Maguwoharjo. Ironisnya, tidak mudah bagi pengungsi di luar Stadion Maguwoharjo untuk mengambil bantuan yang menumpuk tersebut.

Para pengungsi di luar Stadion Maguwoharjo harus melalui birokrasi yang bertingkat-tingkat untuk mengambil bantuan yang sebetulnya diperuntukkan bagi mereka ini. Di ruang panitia Posko Maguwoharjo, tepatnya di meja pelayanan kantor sementara Kecamatan Cangkringan, tertempel sebuah pengumuman, dengan bunyi lengkap sebagai berikut:

  1. Untuk pengungsi dari Kecamatan Cangkringan yang mengungsi di luar Kabupaten Sleman, untuk permintaan logistik harus menyerahkan bukti penyaluran barang yang ditandatangani dan dicap oleh: desa setempat, kecamatan setempat dan kabupaten setempat.
  2. Untuk pengungsi dari Kecamatan Cangkringan yang mengungsi di dalam Kabupaten Sleman, untuk permintaan logistik harus menyerahkan bukti penyaluran barang yang ditandatangani dan dicap oleh desa setempat, kecamatan setempat.
  3. Nomor satu dan dua juga dilampiri jumlah pengungsi dan nama-nama pengungsi.

Pengumuman serupa juga terdapat di meja pelayanan kantor sementara Kecamatan Pakem. Artinya, dengan prosedur tersebut, warga Cangkringan yang mengungsi di Desa Wedomartani, Kec. Ngemplak, harus melakukan langkah-langkah berikut ini untuk meminta bantuan di Stadion Maguwoharjo: mendata dan menyusun daftar nama para pengungsi, meminta tanda tangan & stempel dari Kepala Desa Wedomartani, meminta persetujuan dari Camat Ngemplak, datang ke Maguwoharjo untuk meminta pengesahan dari penanggungjawab Posko Maguwoharjo, serta antri di depan gudang barat Stadion Maguwoharjo.

Jadi, lima langkah harus dilakukan pengungsi di luar Maguwoharjo untuk mengambil bantuan di Stadion Maguwoharjo. Tentang prosedur ini, Budiharjo, Penanggung Jawab Posko Pengungsi Stadion Maguwoharjo, menyatakan, “Sebenarnya prosedurnya tidak berbelit, itu dilakukan untuk memastikan mereka ada di sana atau tidak.” Jadi, menurutnya, untuk menjamin bahwa pengungsi yang meminta bantuan memang benar-benar mengungsi di lokasi tertentu, mereka harus memperoleh tanda tangan dan stempel dari lurah dan camat dimana mereka mengungsi. Untuk pengungsi di luar Kabupaten Sleman, prosedurnya bahkan harus sampai di level pemerintahan kabupaten setempat.

Pengamatan Jalin Merapi pada Selasa (16/11), posko Maguwoharjo tidak menerima permintaan bantuan dari luar DIY. Perkembangan selanjutnya, berdasar pengamatan Jalin Merapi pada Jumat (19/11), posko ini bahkan sudah tidak menerima permintaan bantuan dari luar Kabupaten Sleman. “Prinsipnya pemerintah kabupaten yang harus mencukupi kebutuhan pengungsinya masing-masing,” terang seorang petugas di gudang barat. Mengenai hal ini, Budiharjo menegaskan, “Pada prinsipnya Posko Maguwoharjo melayani pengungsi yang di sini.” Dia menambahkan, “Pengungsi di tempat lain dikoordinir masing-masing camat.”

Posko Pengungsian di Sekitar Stadion Maguwoharjo Memilih Mandiri

Rumitnya prosedur meminta bantuan di Posko Maguwoharjo membuat posko-posko pengungsian di sekitar Stadion Maguwoharjo memilih untuk mandiri. Para pengelola posko mandiri itu tidak meminta, apalagi mengandalkan, bantuan dari Stadion Maguwoharjo.

Membludaknya pengungsi paska erupsi besar Merapi (Jumat, 5/11) menggerakkan nurani para pemuda di Dusun Karangsari, Desa Karangsari, Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, untuk membantu para pengungsi yang membanjiri dusun mereka. Mereka pun mendirikan posko pengungsian yang dihuni lebih kurang 500 warga, jaraknya lebih kurang hanya 500 meter dari Stadion Maguwoharjo.

Pada awal mendirikan posko, mereka sempat meminta bantuan dari Stadion Maguwoharjo. Namun, belakangan, prosedur untuk meminta bantuan semakin susah. Salah satu relawan di posko ini mengatakan, “Minta bantuan ke sana sulit, selalu dioper-operkan. Katanya cuma bawa data, tapi ternyata harus ada stempel dari kelurahan dan kecamatan.”

Pengelola posko mandiri ini bercerita bahwa mereka pernah memperoleh bantuan dari rekan bisnis pengusaha travel di desa mereka. Namun, bantuan yang sedianya masuk ke posko mereka ini malah masuk ke Stadion Maguwoharjo. Karena merasa berhak dengan bantuan tersebut, mereka datang ke Stadion Maguwoharjo untuk mengambil bantuan tersebut. Sampai di sana, ternyata mereka harus bersitegang terlebih dahulu dengan pengelola Posko Maguwoharjo untuk bisa mengambil bantuan yang salah masuk tersebut. “Kalau sudah masuk ke sana, keluarnya susah,” ungkap pengelola Posko Karangsari. Peristiwa tersebut akhirnya membuat mereka memutuskan mendirikan posko mandiri. Untuk mengumpulkan bantuan, mereka mengandalkan relasi para pengusaha dan tokoh masyarakat setempat.

Tak jauh berbeda, relawan Pramuka Peduli yang mendirikan posko di MAN Maguwoharjo memilih mengelola posko secara mandiri. Agus Margunaji, salah satu pengelola Posko MAN Maguwoharjo, menyatakan, “Birokrasi di Posko Maguwoharjo sulit, harus pakai proposal, sering dilempar-lempar, diminta koordinasi dengan ini-itu.” Agus menceritakan, “Kita pernah minta bantuan nasi bungkus ke sana, tapi malah diminta bungkusin sendiri. Akhirnya telat makan, pengungsi malah susah.” Kesal dengan  birokrasi yang panjang, posko yang berjarak lebih kurang 1 kilometer dari Stadion Maguwoharjo ini akhirnya mengandalkan bantuan dari relasi-relasi para pengelolanya. “Ya sudah cari saja teman-teman yang punya komitmen,” ungkap Agus.

Pengelola Posko TK & SD Model Kabupaten Sleman, Kayen, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, menemui pengalaman sama. Posko yang menampung lebih kurang 500 orang ini pernah sekali mendapatkan  bantuan 200 nasi bungkus dari Posko Maguwoharjo. Menurut Luki, relawan yang bertugas di Posko TK & SD Model ini, bantuan nasi bungkus itu bisa mereka dapatkan karena ada teman yang menjadi relawan di Stadion Maguwoharjo. Selepas itu, para pengelola posko yang kebanyakan mahasiswa dan pelajar ini memilih mengelola posko secara mandiri. “Untuk minta ke Maguwoharjo susah, harus ada pengantar dari RW, lurah, dan seterusnya,” Ujar Tyo, relawan asal UII.

*****

Hingga Jumat (19/11), bantuan di gudang barat Stadion Maguwoharjo, yang diperuntukkan bagi pengungsi di luar Stadion Maguwoharjo, masih menumpuk. Namun, para pengungsi di luar Stadion Maguwoharjo tersebut harus melalui birokrasi yang panjang untuk meminta bantuan. Eko Teguh Paripurno, pegiat Masyarakat Peduli Bencana Indonesia, berpendapat, “Prosedur itu agak ruwet. Harusnya bisa dipotong, misalnya langsung ke kecamatan, tidak perlu ke kelurahan dulu.”

Categories: Bencana Merapi Tags: , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: